ESSAY STUDY EKSKURSI I


STUDY EKSKURSI I

Pabrik Gondorukem dan Terpentin, Pabrik Minyak Kayu Putih, dan Pabrik Lak

 

 

 

ALFONSINA ABAT AMELENAN TORIMTUBUN

NIM : 115061100111027

 

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

            Perum Perhutani merupakan perusahaan yang mengelola hutan. Hasil hutan yang dikelola adalah hasil hutan kayu dan non kayu. Dekade lalu, industri kayu banyak dilirik oleh pengusaha karena merupakan indusri yang menjanjikan. Hal ini dikarenakan banyak produk olahan yang bahan bakunya adalah kayu, contohnya furniture, property, dll. Namun, hutan-hutan banyak yang digunduli seiring permintaan akan produk kayu yang meningkat. Maraknya issue global warming akan kerusakan lingkungan juga menjadi alasan untuk mengembangkan hasil hutan berupa produk olahan non kayu. Produk non kayu ini tak kalah  menjanjikan dengan produk kayu karena produk ini banyak dipakai sebagai bahan baku industri kimia. Produk olahan non kayu yang dibahas kali ini adalah gondorukem, terpentin, minyak kayu putih dan seedlak.

 

PABRIK GONDORUKEM DAN TERPENTIN

 

Getah pinus merupakan bahan baku dari pembuatan Gondorukem dan Terpentin. Sadapan getah pinus yang keluar dilakukan pada umur 10 hingga 30 tahun atau hingga akhir daur sebelum pohon pinus ditebang. Mutu getah ditentukan oleh kotoran dan warnanya. Jika kadar kotoran ±16 % dan berwarna putih, maka termasuk mutu I. Jika ±16,1-19 % dan berwarna putih kecoklatan, maka termasuk mutu II.

Gondorukem adalah residu atau sisa dari hasil distilasi getah pinus yang berupa padatan berwarna kuning jernih sampai kuning tua. Ada 4 faktor utama yang menentukan mutu gondorukem, yaitu :

  1. Warna.

Mutu utama (X : Rex) berwarna jernih. Mutu pertama (WW : White Water) berwarna bening air. Mutu kedua (WG : Window Glass)     berwarna bening. Mutu ketiga (N : Nancy) berwarna kuning kecoklatan.

2. Titik lunak

adalah ukuran kekerasan (dalam 0C). Titik lunak gondorukem yaitu 780 C- 820 C.

3. Kadar Kotoran

adalah kotoran-kotoran halus yang terkandung dalam gondorukem (dalam %). Yaitu 0,02% – 0,04%.

4. Volatile Oil Contant (VOC)

adalah terpentin tersisa dalam gondorukem. VOC max 2%.

 

Minyak terpentin merupakan hasil distilasi / penyulingan  getah pinus. Mutu terpentin ditentukan oleh 5 faktor, yaitu :

  1. Warna Jernih
  2. Tidak mengandung kotoran dan air
  3. Kandungan Alpha Pinene : 80% – 85%
  4. Bau yang khas
  5. Berat jenis : 0,848 – 0,865

 

Prinsipnya, proses yang digunakan dalam pengolahan getah pinus menjadi gondorukem dan terpentin meliputi 2 tahapan, yaitu :

  1. Pemurnian Getah
  2. Pemisahan Terpentin dan Gondorukem melalui proses distilasi

 

Berikut adalah proses pengolahan gondorukem dan terpentin, yaitu :

  1. Bahan baku berupa getah pinus ditampung dan diseleksi menurut mutunya. Menyeleksinya dengan cara visual dengan membandingkan antara getah yang ditermia dengan sample standar atau master getah kemudian ditimbang. Sebelumnya, getah diaduk dan diambil sampel dalam 1 ember untuk diuji mutunya dalam laboratorium. Tujuan pengadukan adalah mencairkan getah pinus agar tidak kental; karena semakin baik mutu getah pinus, semakin tidak kental.
  2. Getah pinus ditampung dalam suatu bak penampung. Getah pinus ini ditampung hingga 30 ton.
  3. Getah pinus dialirkan menuju tangki MELTER yang berfungsi untuk mengencerkan larutan getah dengan menggunakan terpentin untuk memudahkan pemisahan kotoran.
  4. Kemudian getah dialirkan ke tangki MIXER yang berfungsi untuk mencampurkan larutan getah dengan asam oksalat (2,5 gram/ton) dan air. Asam oksalat digunakan untuk mengendapkan ion Fe yang berasal dari kotoran khususnya tanah.
  5. Kemudian dialirkan ke tangki SELTER A yang berisi 200 L air yang berfungsi untuk membersihkan kotoran pada larutan getah dengan cara air dialirkan dari atas. Ada pula tangki SELTER B yang berfungsi untuk menampung larutan getah apabila tangki SELTER A ditambahi larutan getah dari tangki MIXER.
  6. Larutan getah ini dialirkan ke tangki WASHER yang berisi 2000 L air. Perlu diperhatikan, volume air dalam tangki ini 10 kali lebih besar dari tangki SELTER dikarenakan tangki ini merupakan tangki pencuci terakhir sebelum larutan getah benar-benar bersih untuk kemudian dimasak. Cara mencuci tangki ini juga berbeda dari tangki SELTER. Jika SELTER dialiri air dari atas sehingga kotoran ke bawah, tangki WASHER dialiri air dari bawah sehingga kotoran ke atas.
  7. Larutan getah yang sudah bersih dialirkan ke tangki PEMASAK. Di dalam tangki ini, ditambahkan ± 40% terpentin. Tujuan penambahan terpentin adalah untuk memisahkan gondorukem dengan terpentin. Proses ini dilakukan selama 2 jam dengan suhu 1650 C. Proses inilah yang menentukan kualitas gondorukem dan terpentin.
  8. Kemudian dilanjutkan ke 3 buah tangki KONDENSOR yang berfungsi untuk mendinginkan uap sehingga didapatlah minyak terpentin.
  9. Gondorukem yang masih dalam keadaan cair langsung dikemas dari tangki PEMASAK dan didinginkan selama 3 hari di dalam kemasan kaleng yang telah diberi label. Gondorukem didinginkan agar diperoleh gondorukem berbentuk padat.
  10. Limbah berupa padatan 6% dapat digunakan untuk membakar gamping, sedangkan limbah padatan berupa tanah halus dapat digunakan untuk membuat gondorukem tanpa mutu. Limbah berupa air dapat dipakai lagi untuk proses dalam pabrik dengan didinginkan terlebih dahulu pada mesin COOLER.

Gondorukem yang selama ini dikenal awam digunakan untuk proses pembuatan batik dan bahan untuk melekatkan solder. Namun, gondorukem memiliki kegunaan yang bernilai ekonomis tinggi,  yaitu : untuk pelapis kertas, bahan additive, tinta printing, industri ban, cat, vernis, isolasi alat elektronik, pengkilat dan perekat, plastik, sabun, semir sepatu, lem, dll.

Sedangkan terpentin yang semula dikenal sebagai pelarut cat yang harganya rendah, bila diproses lebih lanjut bisa menghasilkan komponen alpha pinene dan beta pinene yang bernilai tinggi dan menjadi bahan baku industri parfum, kosmetik, farmasi, kamfer, desinfektan, dll.

 

PABRIK MINYAK KAYU PUTIH

 

Minyak kayu putih merupakan hasil olahan industri non kayu. Manfaat minyak kayu putih sebagai bahan farmasi untuk obat.

Proses pengolahan minyak kayu putih :

  1. Bahan baku berupa daun kayu putih ditimbang yang lebih dulu datang. Kapasitas yang diterima pabrik adalah 36 ton/hari.
  2. Daun kayu putih dimasukkan ke tangki pemasak dengan kapasitas 1,5 ton (terdiri dari 6 tangki). Dalam tangki pemasak, daun kayu putih dimasak dengan cara destilasi uap. Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik didih mencapai 200 °C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa dengan suhu mendekati 100 °C dalamtekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air. Proses pemasakan ini dimasak dalam suhu 60 °C. Kemudian ditutup sehingga tidak ada uap yang bocor.
  3. Kemudian masuk ke tangki kondensor untuk mendinginkan uap dan didapat campuran minyak kayu putih dengan air. Dalam pengolahan minyak kayu putih digunakan air bukan laruatan organik lain karena jika minyak kayu putih dengan air dicampur akan dapat dipisahkan. Sedangkan jika dicampur dengan larutan organik, misalnya alkohol, minyak kayu putih sukar untuk dipisahkan.
  4. Masuk ke tangki separator untuk memisahkan campuran air dengan minyak kayu putih. Pemisahan ini berdasarkan berat jenis larutan, berat jenis minyak kayu putih adalah 0,9 g/L sedangkan air 1 g/L sehingga minyak kayu putih berada di atas permukaan karena memiliki berat jenis yang kecil.
  5. Kemudian ke tangki dehidrator dan ditambah garam industri untuk menjernihkan minyak.
  6. Didapatlah minyak kayu putih. Limbah dari pabrik ini adalah daun kayu putih sisa pemanasan yang berwarna coklat. Manfaat limbah ini untuk briket atau bahan bakar.

 

Saran untuk pabrik ini yaitu dalam pengolahan limbah, limbah daun kayu putih tidak ditimbun melainkan langsund diolah agar tidak terjadi aktivitas anaerob yang jika lama tertimbun akan menyebabkan ledakan.

 

 

PABRIK LAK

 

Seed lak merupakan hasil dari sekresi kutu lak (Laccifer lacca Kerr) yang disekresikan di ranting cabang pohon inang seperti kesambi (Schleichera oleosa). Tanaman kesambi merupakan tanaman yang dikembangkan untuk inang tempat pembudidayaan kutu lak. Tanaman kesambi sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Kesambi Kebo dan Kesambi Kerikil. Kutu lak paling banyak dibudidayakan di pohon Kesambi Kebo, karena :

  1. Lebih disukai kutu lak karena zat yang terkandung didalamnya mudah diserap dan lebih manis
  2. Rendemannya 1: 3 dibanding Kesambi Kerikil
  3. Daun lebat, lebar dan tahan rontok pada musim kemarau
  4. Tahan hama penyakit
  5. Kulit gelap dan tebal sehingga mudah menarik kutu lak untuk menghisap

Selain kesambi, ada beberapa jenis tanaman yang dapat ditulari / menjadi pohon inang, yaitu:

Accacia villosa, Accacia arabica, Trembesi / Kihujan dan Kaliandra merah.

 

Proses pengolahan lak, yaitu :

  1. Pemungutan Lak Cabang

Lak cabang dipungut dari ranting pohon inang yang ditempeli sekresi kutu lak. Lak cabang dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan kualitasnya, yaitu A1, A2, dan A3. A1 maksudnya adalah pada lak cabang penuh oleh sekeresi kutu lak atau maksimal terdapat 2 titik kosong, A2 penuh akan sekresi lak tetapi tidak sepenuh A1 atau memiliki titik kosong lebih dari 2, sedangkan A3 tidak penuh dan jarang sekali terdapat sekresi lak bahkan cabang dapat terlihat jelas.

2. Unit Pengerok (Cruser)

Lak cabang dimasukkan ke corong mesin cruser untuk merontokkan / memisahkan butiran lak dari ranting kayu. Saat pengerokan diperoleh butiran lak dan limbah ranting lak. Limbah ranting lak yang masih mengandung lak, dikerok lagi dalam mesin cruser. Sedangkan yang sudah tidak ada laknya, dibuang dan dimanfaatkan sebagai kayu bakar untuk warga sekitar.

3. Pengayakan

Untuk memisahkan butiran lak yang didapat dari unit pengerok dengan ranting kayu yang tercampur di dalam butiran lak  tersebut. Selain itu untuk menghasilkan butiran lak ukuran 0,2-0,5cm.

4. Penimbangan

Untuk mengetahui jumlah butiran lak kasar

5. Perendaman

Perendaman dalam larutan soda api (18 %) atau triethanolamin untuk memisahkan lak butiran dengan kotoran berupa kayu yang masih tercampur. Perendaman ini dilakukan selama 20 jam. Setelah 20 jam direndam, larutan tersebut diberi poliser untuk membersihkan darah dari kutu lak. Darah ini kemudian menjadi limbah dan ditampung di dalam bak penampung untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian. Kemudian diberi garam (15 %) untuk memisahkan kotoran dengan seed lak yang nantinya didapat seed lak berada di atas, sedangkan kotoran berada di bawah. Hal ini memudahkan untuk memisahkan kotoran dibanding hanya dengan air.

6. Pencucian

Kemudian lak butiran dibilas atau dicuci dengan air tawar untuk mengendapkan garam.

7. Pengeringan

Dengan cara sentrifugal, kemudian dijereng untuk dianginkan. Pengeringan dilakukan dalam kondisi kering / dianginkan, tidak lembab karena seed lak akan membeku dan mengeras nanti sehingga sulit untukdipecahkan, tidak juga dikeringkan di bawah sinar matahari karena seed lak akan membentuk karamel jika dipanaskan.

 

Manfaat lak sebagai bahan pembuatan politur kayu, isolasi, alat-alat listrik, piringan hitam, tinta cetak, perekat, bahan penyamak kulit, campuran semir sepatu dan perekat.

Dalam pabrik ini juga ada pengolahan getah damar yang dimanfaatkan untuk kemenyan pada jemaah-jemaah haji. Proses pengolahannya yaitu getah damar disadap kemudian dibekukan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s