Bumiku Hijau, Hidupku Tentram


Kota Malang terkenal dengan kota yang sejuk dan berhawa dingin. Saat aku menginjakkan kaki pertama kali di Malang ketika aku berusia 6 tahun (sekitar 14 tahun lalu), memang benar apa kata orang, kota ini sangat sejuk, berhawa dingin dan udaranya pun segar. Setiap pagi selalu ada embun pagi, membuat daun-daun basah, membuat udara terasa segar, pembangkit semangat untuk memulai aktivitas di hari yang baru. Tetapi hal ini tidak berlaku untuk 3 tahun terakhir ini. Apa yang kurasakan sekarang tidak sama ketika aku masih kecil. Kota Malang menjadi lebilh panas, tidak ada lagi embun pagi, setiap siang banyak kendaraan berlalu lalang membuat udara menjadi semakin pengap dan tidak segar, banyak bangunan-bangunan yang didirikan sehingga mengurangi lahan kosong sebagai penyerapan air dan tempat untuk menanam tanaman sebagai penghasil oksigen.

Memang bagus, kota Malang semakin maju, tetapi tahukah, semakin bertambahnya penduduk, semakin banyak lahan yang digunakan untuk pemukiman, semakin banyak kebutuhan akan sarana transportasi untuk mobilitas penduduk kota yang berakibat semakin banyaknya emisi gas buang yang dihasilkan, semakin banyak pula limbah rumah tangga yang dihasilkan yang tidak tertangani dengan baik dan akhirnya menjadi tumpukan sampah yang mencemari udara, air dan tanah. Hal ini perlu dicermati, karena jika dibiarkan terus-menerus dan tidak ada upaya untuk menanganinya, hal-hal tersebut akan menyumbang penyebab pemanasan global bagi bumi ini.

Pemanasan global menjadi isu utama dalam dasawarsa terakhir. Hal ini dikarenakan pemanasan global akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut akibat es di kutub mencair, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang esktrim, gangguan ekologis, terpengaruhnya hasil pertanian dan perkebunan, serta iklim mulai tidak stabil. Pemanasan global sendiri adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Selama seratus tahun terakhir, suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas-gas efek rumah kaca akibat aktivitas manusia. Gas efek rumah kaca antara lain adalah uap air, gas karbon dioksida dan metana. Dinamakan efek rumah kaca karena gas ini berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca, yaitu menangkap radiasi gelombang cahaya yang dipancarkan matahari ke bumi dan merubahnya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Apabila gas-gas efek rumah kaca ini jumlahnya terlalu berlebihan, panas yang tersimpan di permukaan bumi semakin meningkat yang berimbas pada kenaikan suhu rata-rata tahunan bumi.

Seperti yang dijelaskan di paragraf kedua, salah satu penyebab banyaknya gas-gas efek rumah kaca yang terakumulasi di udara adalah penggunaan sarana transportasi yang membutuhkan bahan bakar fosil untuk menggerakkannya. Dan untuk menggerakkan sarana transportasi ini, terdapat proses pembakaran bahan bakar fosil pada setiap mesin kendaraan. Proses pembakaran ini akan menghasilkan salah satu gas efek rumah kaca, yaitu gas karbondioksida. Cara termudah untuk menghilangkan gas karbondioksida di udara adalah dengan melakukan reboisasi, menanam lebih banyak pohon/tanaman, terutama pohon/tanaman yang mudah dan cepat pertumbuhannya yang mampu menyerap banyak karbondioksida untuk digunakan pada proses fotosintesis untuk menghasilkan cadangan makanan bagi tumbuhan itu sendiri. Dengan penanaman banyak pohon, akan mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Jika di rumah kita tidak ada tanah kosong untuk menanam tanaman, tidak perlu khawatir, karena ada metode hidroponik, yaitu menanam tanaman di pot-pot atau polybag, baik medianya tanah ataupun bukan. Cara inilah yang kita sebut dengan penghijauan. Manfaat penghijauan antara lain : manfaat estetis / keindahan, pohon memiliki bentuk khas sehingga menciptakan keindahan sendiri, selain itu bangunan tanpa pohon akan terasa gersang; akar pohon mampu mencegah erosi; pohon dapat menyerap air hujan sehingga akan ada persediaan air tanah dan tidak menimbulkan banjir; dengan banyak pohon, udara terasa sejuk dan nyaman;  manfaat edaphis, manfaat yang berkaitan dengan tempat hidup binatang, semakin banyak pohon, semakin nyaman hidup binatang tersebut; manfaat protektif, pohon mampu memberi perlindungan terhadap terik matahari, angin kencang, dan hujan; manfaat edukatif, dengan banyaknya pohon yang ditanamn, kita akan mengenal berbagai jenis pohon; manfaat yang paling penting adalah pohon mampu menyuplai oksigen yang diperlukan untuk kebutuhan metabolisme makhluk hidup.

Banyak sekali kan manfaat jika kita melakukan penghijauan, menanam banyak sekali pohon ? Setelah mengetahui pentingnya penghijauan, lakukan aksi kita untuk melakukan penghijauan! Presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono saja mencanangkan program penanaman 1 pohon untuk 1 orang, jadi tiap penduduk Indonesia diwajibkan menanam 1 pohon di rumahnya atau di lahan lainnya. Ada juga program pemerintah yang mencanangkan penamanan sejuta pohon. Dengan menanam pohon saja kita sudah melakukan banyak sekali kegiatan positif dengan manfaat yang besar, yaitu ikut melaksanakan program pemerintah, menyelamatkan anak cucu kita akan dampak dari pemanasan global, menjaga kedamaian bangsa ini dari berbagai masalah akibat kerusakan lingkungan seperti banjir yang tiap tahun melanda ibukota Jakarta, dan menyehatkan tubuh kita karena kita akan tersuplai banyak oksigen dari hasil fotosintesis tumbuhan.

4 pemikiran pada “Bumiku Hijau, Hidupku Tentram

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s