Kecerdasan dalam Belajar


Nilai rapor yang bagus menjadi tolok ukur keberhasilan belajar seorang anak. Banyak orangtua mendorong anaknya untuk terus belajar, bersaing dengan teman-temannya agar dapat mencapai peringkat teratas di kelas. Setiap anak dijejali banyak materi dan rumus yang harus mereka hapalkan dan pahami.

Pendidikan di Indonesia selama ini terlalu berorientasi pada kecerdasan otak kiri atau intelligence quotient (IQ). Kecerdasan ini adalah suatu kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi (Sudrajat, 2008). Anak dituntut untuk terus berprestasi, mendapat nilai tertinggi, juara kelas, bahkan kalau bisa memenangkan olimpiade akademik. Karena dengan begitu, tidak hanya sekolah yang diuntungkan karena memiliki siswa berprestasi yang akan mengangkat nama baik sekolah, tetapi juga orangtua yang akan bangga dan tak perlu khawatir karena anak berprestasi dipandang memiliki masa depan cerah.

Akan tetapi, ada kecerdasan otak kanan atau emotional quotient (EQ) yang seringkali diabaikankan orang.  EQ adalah kapasitas, kemampuan, dan ketrampilan untuk menangkap atau menilai serta mengendalikan emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok (Sudrajat, 2008). Kecerdasan emosional ini penting untuk mengoptimalkan proses pembelajaran anak (Kompas, 25 Agustus 2013). Anak akan mudah stress jika terlalu dibebani untuk mendapat hasil terbaik. Dengan EQ, anak diajarkan untuk mampu mengatur emosinya, menumbuhkan rasa senang dan semangat untuk belajar (Kompas, 25 Agustus 2013). Hal ini diperlukan agar anak mudah menangkap materi pelajaran dan mengerjakan segala sesuatu dengan senang. Hasilnya pun akan jauh lebih baik.

Penggunaan IQ dan EQ saja dalam belajar tidaklah cukup. Anak diharapkan tidak hanya mudah menangkap materi pelajaran dengan gembira, namun mendapat manfaat dan makna dari belajar sehingga tidak hanya sekali dua kali ia senang belajar, tetapi terus menerus merasa senang dan memiliki rasa haus akan belajar yang dipandang bukan sebagai kewajiban namun sebagai suatu kebutuhan. Untuk mengetahui manfaat dan makna dari belajar itu sendiri diperlukan kecerdasan spiritual atau spiritual quotient (SQ). SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value; yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna daripada yang lain (Ary Ginanjar Agustian, 2001:57). SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ. SQ adalah kecerdasan tertinggi kita.

Tanpa SQ, anak tidakkan tertarik dengan belajar, bahkan menganggap belajar sebagai momok yang harus dihindari, karena tidak tahu alasan dan tujuan mengapa ia harus belajar, mengapa harus menangkap seluruh materi pelajaran di sekolah. Dengan mengetahui bahwa belajar memiliki manfaat untuk masa depannya, belajar tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang hanya menghapal rumus dan memahami seluruh materi pelajaran;  tetapi belajar akan lebih diartikan sebagai bekal untuk kehidupan di masa depan, (non scolae sed vita discimus). Anak perlu memahami bagaimana memanfaatkan informasi dan data yang diperoleh dari belajar untuk diaplikasikan dalam kehidupannya kelak.

Belajar bukan hanya di sekolah. Seluruh kehidupan kita dan alam adalah sumber belajar yang sesungguhnya yang perlu dipelajari. Jika anak mampu memandang belajar dengan cara seperti ini, belajar tidak lagi menjadi momok yang ditakuti, karena belajar akan menjadi makanan jiwa sehari-hari anak. Sehingga empat pilar pendidikan yang dicetuskan oleh UNESCO, badan dunia yang mengurusi pendidikan internasional yaitu life to do, life to learn, life to be, life live together. Uintuk itu perpaduan kemampuan IQ, EQ dan SQ secara optimal akan menentukan mutu pribadi sorang anak. Dan untuk mencapai pribadi unggul itu, perlu pembiasaan secara terus menerus dan dukungan maksimal dari keluarga, sekolah dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s